Prediksi Perkembangan Industri E-commerce Indonesia pada Tahun 2022

Indonesia saat ini merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggaradengan kontribusi hingga lima puluh persen dari seluruh transaksi di wilayah ini. Seiring pertambahan penduduk yang menggunakan internet dan peningkatan penetrasi e-commerce, kontribusi sektor ini terhadap ekonomi Indonesia berpotensi terus meningkat.

Pada Agustus 2018, firma konsultan manajemen McKinsey & Company merilis hasil riset mengenai status industri e-commerce Indonesia terkini serta proyeksi perkembangannya selama beberapa tahun ke depan. Temuan mereka antara lain meliputi dua topik, yaitu:

  • Pertumbuhan nilai pasar e-commerce Indonesia hingga tahun 2022, dan
  • Potensi dampak pertumbuhan tersebut terhadap lanskap ekonomi dan sosial Indonesia.

E-commerce diperkirakan tumbuh hingga US$65 miliar (Rp910 triliun)

Studi McKinsey mendefinisikan e-commerce sebagai proses jual beli barang fisik secara online yang dibagi kembali menjadi dua kategori, yaitu:

  • E-tailing, yaitu jual beli formal melalui platform online yang didesain untuk memfasilitasi transaksi seperti Bukalapak dan Tokopedia, serta
  • Social commerce, yaitu pemasaran barang melalui media sosial seperti Facebook atau Instagram dengan pembayaran dan pengiriman dilaksanakan melalui platform lain.

Menurut McKinsey, perusahaan jasa seperti GO-JEK, Traveloka, dan platform B2B seperti IndoTrading berada di luar lingkup riset ini. Namun, bahkan tanpa memperhitungkan sektor jasa dan B2B, gross merchandise value pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar delapan kali lipat pada tahun 2022.

Proyeksi nilai pasar e-commerce Indonesia berdasarkan gross merchandise value.

Sumber: McKinsey & Company.

Pertumbuhan yang pesat ini diperkirakan terjadi karena lima faktor utama, antara lain:

Pasar yang berorientasi mobile

Berkat ketersediaan smartphone dengan harga relatif terjangkau, warga Indonesia yang memiliki smartphone saat ini mencapai 40 persen dari total populasi atau sekitar 106 juta orang. Harga paket data seluler yang relatif murah dibanding negara Asia Tenggara lainnya turut memudahkan konsumen Indonesia untuk berbelanja dengan perangkat mobile.

Konsumen muda dan melek digital

Sekitar 87 juta orang atau sepertiga populasi Indonesia berusia 16 hingga 35 tahun, dan sekitar 100 juta orang kini terdaftar di bank. Kedua demografi ini tampak semakin terbiasa menggunakan platform online dan bertransaksi digital. Menurut McKinsey, konsumen saat ini rata-rata 2,6 kali lebih sering bertransaksi lewat aplikasi smartphone dibanding 2014.

read also

BACA JUGA

Peran golongan milenial dalam perkembangan perbankan Indonesia

Peningkatan partisipasi UMKM

Total bisnis online di Indonesia telah meningkat hingga sekitar 4,5 juta pada 2017. Dari jumlah tersebut, sekitar 99 persen adalah pengusaha mikrodengan pendapatan kurang dari Rp300 juta tiap tahun dan 50 persen adalah bisnis online tanpa toko fisik.

Penggunaan platform online yang meningkat oleh konsumen serta hadirnya startup pendukung seperti Sirclo dan aCommerce turut membangun lingkungan yang akomodatif bagi UMKM untuk merancang toko online, mengurus transaksi, dan memasarkan produk.

Bertumbuhnya investasi

Dari 2015 hingga 2017, Indonesia mendapatkan US$5 miliar (sekitar Rp69 triliun) atau 38 persen investasi untuk perusahaan ekonomi digital di Asia Tenggara. Dari jumlah tersebut, platform e-commerce seperti Bukalapak, Matahari Mall dan Tokopedia menjadi kategori yang paling banyak mendapat pendanaan—sekitar US$3 miliar (Rp41 triliun).

Dukungan pemerintah

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program untuk menunjang ekonomi digital, seperti pembangunan jaringan Palapa Ring. Sejumlah faktor pendukung lainnya meliputi keterbukaan relatif pemerintah Indonesia terhadap investasi asing, peluncuran Perpres mengenai roadmap e-commerce pada 2017, serta hadirnya inkubator buatan instansi negara seperti IDX Incubator dari Bursa Efek Indonesia.

read also

BACA JUGA

Daftar inkubator dan akselerator startup yang hadir di Indonesia

Dampak perkembangan e-commerce bagi Indonesia

Pertumbuhan ekosistem e-commerce melambangkan bahwa peran industri ini di Indonesia akan terus meningkat. Dalam beberapa tahun ke depan, berbagai aspek ekonomi Indonesia, mulai dari lapangan kerja hingga kebiasaan berbelanja konsumen, akan semakin terdampak oleh kontribusi e-commerce. 

Tenaga kerja e-commerce bertambah secara pesat

Saat ini, industri e-commerce telah berdampak positif bagi lapangan kerja Indonesia dengan estimasi 4 juta pekerja terhubung dengan ekosistem ini. Pada 2022, pertumbuhan pasar e-commerce Indonesia dapat merangkul sekitar 26 juta pekerja atau 20 persen angkatan kerja Indonesia. Lapangan kerja baru ini meliputi:

  • Lapangan kerja baru yang muncul untuk mendukung kegiatan e-commerce seperti posisi pemrograman atau logistik di perusahaan e-tailing, dan
  • Pekerjaan yang sudah ada namun diperbarui oleh perkembangan e-commerce, seperti pengelola UMKM yang berpindah dari bisnis offlineke online.
Estimasi jumlah pekerjaan yang didukung e-commerce di Indonesia.

Sumber: McKinsey & Company.

Konsumen berhemat lebih banyak

Selain produsen dan distributor, tren berbelanja konsumen juga akan mengalami berbagai perubahan. Sejauh ini, kemudahan dalam bertransaksi dan memilih produk telah mendorong jumlah konsumen online diproyeksikan meningkat sekitar 25 persen tiap tahun dan akan mencapai 65 juta orang pada 2022.

Peningkatan popularitas belanja online juga terkait dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan berbelanja produk serupa secara offline. Misalnya, konsumen online di pulau Jawa—terutama daerah urban—rata-rata berhemat sekitar 4-14 persen dibanding berbelanja offline.

Ini dikarenakan biaya operasional tinggi membuat harga barang offline makin mahal, sementara jaringan distribusi yang menyeluruh membuat biaya pengiriman online makin murah.

Berkembangnya e-commerce dapat memungkinkan konsumen di daerah rural atau terpencil untuk menikmati produk yang sebelumnya sulit diakses.

Sementara itu, konsumen online luar Jawa—terutama di daerah terpencil—dapat berhemat sekitar 11-25 persen. Dalam kasus ini, berbelanja online jauh lebih murah dikarenakan biaya inventaris distributor barang offline yang tinggi.

Namun, ongkos pengiriman masih berdampak tinggi ke harga barangonline; di sejumlah kota luar Jawa seperti Palembang dan Timika, ongkos pengiriman bisa mencakup 40-50 persen dari total biaya pembelian suatu produk.

Mendorong partisipasi wilayah rural

Saat ini, sekitar tujuh puluh persen transaksi online Indonesia masih berasal dari empat wilayah urban terbesar di Indonesia; Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang. Namun, sejumlah tren sejauh ini menunjukkan bahwa e-commerce juga dapat menjadi sarana bagi penduduk di wilayah rural untuk meningkatkan kontribusi dalam ekonomi nasional dan internasional.

Transaksi melalui platform e-tailing di wilayah seperti Papua, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara meningkat sekitar dua kali lebih cepat dibanding transaksi di Jakarta dari tahun 2013 hingga 2017, terutama dalam pembelian. Peningkatan ini berpotensi terjadi lebih cepat seiring dengan bertambahnya penetrasi internet dan daya beli masyarakat.

read also

BACA JUGA

Kendala yang berpotensi memperlambat penetrasi e-commerce di Indonesia

Secara keseluruhan, penjualan e-tailing dari wilayah rural telah meningkat 2,5 kali lipat sejak 2015 menjadi sekitar Rp337 juta pada 2017. Sementara itu, pembelian e-tailing meningkat lebih cepat yaitu empat kali lipat dalam periode yang sama menjadi sekitar Rp4,9 triliun pada 2017. Tingginya jumlah pembelian dapat melambangkan bahwa e-commerce berpotensi membantu penduduk wilayah rural untuk membeli gawai yang sebelumnya sulit diakses.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

Read More

[Opini] 3 Alasan Mengapa Entrepreneur Harus Meninggalkan Marketplace Online

[Dilansir dari Tech in Asia]. Dari sudut pandang para entrepreneur, memulai bisnis di marketplace onlinemungkin merupakan sebuah langkah cerdas. Antarmuka yang mudah digunakan, serta platform multifungsional dari segi pembayaran hingga logistik telah membuat marketplace terlihat sangat menjanjikan.

Di balik segala kepraktisan yang disuguhkan, marketplace juga telah menjadi tempat perlabuhan ribuan pembeli online. Pada Tokopedia contohnya, SimilarWeb mencatat marketplace online tersebut setidaknya telah dikunjungi 154 juta kali pada Agustus 2018. Angka yang sangat dramatis, bukan?

Berdasarkan pada prospek jangka panjang dari sebuah bisnis onlinemarketplace bukan lagi tempat yang tepat untuk meneruskan bisnis.

Namun, sebagian pebisnis online kini mulai menyadari bahwa strategi pemasaran melalui marketplace bukan merupakan solusi total dari bisnis mereka. Berdasarkan pada prospek jangka panjang dari sebuah bisnis onlinemarketplace bukan lagi tempat yang tepat untuk meneruskan bisnis.

Di balik keunggulan marketplace online yang tengah hangat dibincangkan para pebisnis, pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan fakta kritis lain yang patut dipertimbangkan oleh para entrepreneur, beserta alasan di balik mengapa mereka harus menghindari marketplace sebisa mungkin.

Kompetisi harga

Keunggulan marketplace di mata pembeli mungkin justru akan menjadi bencana di mata penjual. Desain antarmuka yang ramah pembeli mungkin tidak ramah lagi bagi para penjual.

Marketplace pada umumnya mengandalkan kategori produk untuk membantu para pengunjung menemukan barang yang mereka cari dalam waktu singkat. Namun mekanisme ini dalam perspektif lain juga akan mengaktifkan kompetisi harga antara sesama penjual.

Jika hal ini diteruskan maka akan mengakibatkan penurunan pada margin produk.

Setiap kali pengunjung melakukan pencarian, ia akan disuguhkan dengan variasi barang substitusi lainnya dengan variasi harga berbeda-beda. Harga produk yang lebih murah tentunya akan semakin menarik bagi konsumen.

Contohnya pada pencarian “casing Samsung Galaxy Note 9” di bawah, kita dapat melihat terdapat ribuan produk yang sama dengan variasi harga berbeda-beda. Jika hanya dapat melihat referensi dari foto yang terpampang, casing seharga Rp60.000 tidak kalah menarik dengan yang seharga Rp299.000. Jika saya adalah pembeli, saya jelas akan memilih produk yang tersajikan dengan harga yang lebih murah.

Tokopedia Hasil Pencarian Casing Galaxy Note 9 | Screenshot

Ilustrasi pencarian casing Samsung Galaxy Note 9 di Tokopedia.

Jika produk yang dijual bukan merupakan produk unik, pemasaran melalui marketplace justru akan memasukkan produk milikmu dalam kompetisi harga yang lebih sengit. Jika hal ini diteruskan maka akan mengakibatkan penurunan pada margin produk.

Yang lebih mengerikan lagi, pertarungan harga ini tak akan berhenti sejak makin banyak barang buatan Cina masuk ke pasar lokal. Sangat mustahil untuk bertarung dengan produk asal Cina, apalagi dalam kategori harga.

Produktivitas para produsen asal Cina yang tinggi membuat produk mereka dapat dengan mudah mengalahkan pesaing lokal dengan harga yang lebih murah, dengan kualitas sama atau bahkan lebih baik.

Produsen asal Cina merupakan kompetitor terburuk. Kita tidak akan pernah bisa bersaing dengan adil. Edison Chen, Business Development Manager Tagtoo

Para entrepreneur tentunya perlu berpikir dua kali sebelum memilih jalur pemasaran produk mereka. Sebisa mungkin hindari kompetisi dengan produk asal Cina, apalagi jika produknya tidak memiliki keunggulan yang menonjol.

Pengumpulan data

Pengelolaan data yang tepat akan sangat berguna bagi penyusunan strategi bisnis ke depan. Pemasaran melalui marketplace berpotensi membuat para pebisnis kehilangan kesempatan untuk mendapatkan data tentang pelanggan.

Mereka juga kehilangan kesempatan mengupas lebih lanjut insight dari konsumen. Sangat bertolak belakang dengan situs web e-commerce milik pribadi yang memberikan akses yang luas pada segala data yang dibutuhkan.

read also

Beberapa metrik umum, seperti bounce rate atau average page durationyang dapat ditemui pada Google Analytics atau tool digital tracking lain, tidak dapat ditemukan dalam laporan marketplace pada umumnya. Para penjual biasanya hanya dapat mengevaluasi data perkembangan toko online masing-masing dari:

  • Jumlah transaksi tercatat,
  • Data lain yang kurang relevan, serta tidak mencerminkan keadaaan pasar secara keseluruhan.

Masalah ini akan terus berkembang secara signifikan ketika para entrepreneur memiliki lebih banyak pelanggan. Hal ini menyebabkan mereka mudah kehilangan arah akan pertumbuhan perusahaan, serta berdampak pada pengambilan strategi yang salah.

Pengembangan usaha (scalability)

Pemasaran toko online melalui marketplace mungkin sesuai bagi penjual yang baru saja memulai usahanya. Berbagai manfaat baik dari segi logistik dan pengelolaan situs web telah banyak memberi kemudahan pada mereka yang baru saja memulai usaha online.

Namun, jika para entrepreneur tersebut memiliki visi yang lebih jauh mengenai perkembangan usahanya, marketplace tentu saja bukan dermaga tempat mereka berlabuh. Terdapat berbagai batasan yang akan menghambat pertumbuhan usaha, termasuk dua poin yang telah dijabarkan di atas. Kombinasi dari kedua hal ini saja dapat menghambat pertumbuhan ke depan.

Meskipun pertumbuhan pesat tampak muncul pada periode awal, namun hasil pengamatan Tagtoo terhadap e-commerce di Asia Tenggara memprediksi kebanyakan toko online tersebut akan mengalami kemunduran perlahan-lahan di waktu yang akan datang.

“Hal ini merupakan efek samping dari marketplace yang tidak dapat dihindari,” tambah Edison. “Periode stagnan adalah proses yang akan ditemukan oleh setiap pebisnis. Ini telah menjelaskan mengapa beberapa pebisnis yang telah sukses di marketplace akhirnya berbelok untuk mendirikan situs e-commerce sendiri.”

Life8 Outlet | Photo

Salah satu gerai offline Life8 yang usahanya terus berkembang setelah memutuskan meninggalkan marketplace online.

Life8, sebuah brand sepatu kulit asal Taiwan, merupakan salah satu toko online yang pindah dari marketplace menuju situs e-commerce. Pertumbuhan yang begitu pesat setelah itu telah membuat Life8 memiliki sebelas gerai offline di Taiwan. Mereka juga telah berekspansi ke beberapa negara di Asia, salah satunya adalah Indonesia.

Fenomena ini telah banyak diamati pada negara-negara yang telah memiliki e-commerce tahap matang seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Taiwan. Sejarah ini tanpa dipungkiri lagi dapat terulang kembali di Indonesia.

Rasio pertumbuhan atau growth rate merupakan kunci indikator dari potensi sebuah bisnis. Dengan scalability terbatas pada marketplace, pebisnis onlineyang telah bertahan pada fase awal kini harus mempertimbangkan dengan serius entah untuk bertahan atau meninggalkan marketplace di kemudian hari.


Marketplace dan e-commerce sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya. Pebisnis tidak dapat mempertahankan marketplace hanya karena mendapat testimoni yang lebih baik dari toko online lain. Endorsement mengenai marketplace juga bukan merupakan kebenaran yang mutlak.

Menjalankan e-commerce memang akan lebih sulit dibanding membuka lapak dalam marketplace. Namun, ketekunan dan kerja keras akan menginvestasikan hasil yang lebih dalam periode yang panjang dan akan menjadi keputusan yang tepat yang pernah kamu buat.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan di blog resmi Tagtoo dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

Read More